Menjadi Manusia
Berprestasi Dengan Organisasi
A.
Definisi Organisasi Menurut Para Ahli :
Secara sederhana, organisasi bisa diartikan sebagai suatu
alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu
yang perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik. Sehingga bisa
dimungkinkan terjadinya suatu konflik dalam sebuah organisasi yang dikarenakan
oleh adanya ketidakselarasan tujuan, perbedaan interpretasi fakta,
ketidaksepahaman yang disebabkan oleh ekspektasi perilaku dan sebagainya.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi organisasi menurut beberapa ahli:
1.
MATTHIAS AROEF
Suatu organisasi terjadi apabila
sekelompok orang bekerja bersama sama untuk mencapai tujuannya.
2.
PFIFFNER dan SHERWOOD
Organisasi sebagai suatu pola dari
cara-cara dalam mana sejumlah orang yang saling berhubungan, bertemu muka,
secara intim dan terkait dalam suatu tugas yang bersifat kompleks, berhubungan
satu dengan yang lainnya secara sadar, menetapkan dan mencapai tujuan yang
telah ditetapkan semula secara sistematis.
3. ALLEN
Organisasi
adalah suatu proses identifikasi dan pembentukan serta pengelompokan kerja,
mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang maupun tanggung jawab dan menetapkan
hubungan - hubungan dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerjasama
secara efektif dalam menuju tujuan yang ditetapkan.
Menurut ERNEST
DALE, sebuah struktur organisasi harus memuat tentang 5 hal sebagai berikut:
a.
Daftar pekerjaan yang perlu
dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi;
b.
Membagi jumlah beban kerja dalam
tugas-tugas atau biasa disebut pembagian kerja (division of work);
c.
Menggabungkan tugas-tugas dalam
keadaan yang logis dan efisien atau departementalisasi (departmentalization);
d.
Menetapkan mekanisme untuk koordinasi;
dan
e.
Memonitor efektivitas struktur
organisasi dan melakukan penyesuaian apabila diperlukan
Bagi para mahasiswa baru yang tidak
ada background organisasi di SMA seringkali merasa ketakutan untuk masuk ke
dalam dunia organisasi kampus. Alasannya memang beragam, tapi banyak yang
mengatakan masuk ke suatu organisasi kampus akan membuat nilai-nilainya turun
dan akan sangat mengganggu aktivitas perkuliahan. Mereka para pemikir-pemikir
hebat yang terlalu mengagungkan akademik dibandingkan keterampilan softskill beralasan masuk organisasi
hanyalah membuang-buang waktu belajar.
Secara umum kita melihat bahwa
orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi hanyalah para mahasiswa yang
lulusannya selalu telat dengan IPK yang lumayan buruk. Itulah sekelumit pandangan
terhadap para organisatoris.
Masih hangat dalam ingatan saya saat
awal masuk di acara masa pengenalan akademik (OSPEK), seorang
kakak kelas mengajukan pertanyaan kepada saya dan juga beberapa teman lainnya,
“Kalian mau menjadi mahasiswa seperti apa?” ujarnya kala itu. Pertanyaan itu
sangat membingungkan bagi saya. Dan saat itu saya sendiri tidak paham apa yang
dimaksud oleh kakak kelas tersebut. Karena di benak saya hanya ada keinginan
menjadi sebaik-baiknya mahasiswa. Dan sebaik-baik mahasiswa yang saya tahu pada
saat itu adalah mahasiswa yang ber-IPK tinggi, lulus dalam jangka waktu cepat,
kemudian mendapat pekerjaan yang sesuai bidangnya.
Namun seiring berjalannya waktu,
saat saya sudah menjalani kehidupan kampus dalam keseharian, saya pun mulai mengerti
maksud kakak kelas tersebut. Karena saya merasakan sendiri bahwa ada beberapa
tipe mahasiswa di kampus tercinta ini (dan mungkin hampir di seluruh
universitas di negeri ini). Sedikitnya saya menganalisis ada empat kelompok
besar tipikal mahasiswa. Pertama, adalah kelompok mahasiswa yang mementingkan
prestasi akademik dan nilai IPK tinggi di atas segalanya. Paradigma mereka sama
seperti paradigma awal saya, yaitu menjadi mahasiswa berprestasi dengan IPK
tinggi (min. 3,00) sehingga dapat mengambil jatah SKS lebih banyak dan
mempercepat waktu kelulusan. Sebutan kerennya adalah mahasiswa KUPER
(Kuliah-Perpus-Rumah) dikarenakan memang seputar tiga daerah itu saja mereka
berkutat dan aktifitasnya selalu belajar, belajar dan belajar. Motivasi belajar
mereka memang sangat bagus dan patut dicontoh. Namun bila dilihat lebih
mendalam, efek belajar terus-menerus tanpa ada selingan kegiatan di luar
akademik untuk membangun hubungan pertemanan sangatlah tidak baik bagi diri
mereka sendiri. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial (zoon
politicon) yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Dan dalam dunia kerja
hubungan komunikasi itu akan sangat berpengaruh terutama dalam hal kerja tim.
Kedua, adalah kelompok mahasiswa
yang lebih mementingkan kegiatan di luar akademik. Paradigma mereka adalah
membangun jaringan seluas-luasnya (networking) agar lebih berkembang. Mereka
lebih dikenal sebagai aktivis. Julukan yang sering terlontar bagi mereka adalah
KURA-KURA (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat) atau MANSYUR S.(Manusia Syuro Selalu).
Membangun relasi serta interaksi dalam sebuah tim (dalam hal ini organisasi)
memang sangat bagus. Hanya saja tipikal mahasiswa ini dominan melalaikan
kewajiban utamanya sebagai mahasiswa dikarenakan terlalu larut dan keasyikan
dalam aktifitasnya. Sehingga masa kuliah mereka relatif lebih lama dibanding
teman-temannya yang lain. Dan itu akan berdampak pada keluarga mereka yang
menanti mereka untuk segera mengenakan toga dan mendapat title sarjana di
belakang nama mereka.
Ketiga, adalah tipikal mahasiswa
yang kontras dengan kedua tipikal mahasiswa di atas. Yaitu tipikal mahasiswa
yang tidak memiliki niat serius dalam meraih prestasi akademik ataupun aktif
dalam organisasi. Mereka adalah tipikal mahasiswa yang dikenal dengan istilah
KUNANG-KUNANG (Kuliah Nangkring-Kuliah Nangkring). Paradigma yang mereka miliki
kebanyakan adalah kuliah hanya sekedar mendapatkan ijazah dan title semata.
Aktifitas yang mereka lakukan pun biasanya sesuka hati mereka, yang bersifat
hedonis dan senang-senang seperti nonton ke bioskop, jalan-jalan, pacaran, main
games dan sebagainya.
Terakhir, adalah tipikal mahasiswa
yang sempurna. Merupakan penggabungan semua unsur kebaikan dari tipikal
mahasiswa pertama dan kedua. Mereka adalah manusia-manusia pembelajar, seperti yang
dikatakan Andreas Harefa. Karena mereka mampu memanajemen waktu dan memporsikan
diri mereka dalam dua dunia, yaitu dunia kuliah dan dunia organisasi. Dan
mahasiswa seperti inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat, lingkungan serta
negara ini.
Organisasi membuat kita menjadi
lebih kritis dalam menghadapi suatu masalah, menjadi lebih peka dengan
lingkungan sekitar, juga belajar berinteraksi untuk menyampaikan suatu gagasan
yang seringkali berbeda satu sama lain. Seharusnya para organisatoris mengerti
betul tentang manajemen waktu, hal itulah yang menjadi suatu kelebihan
dibanding orang yang tidak berorganisasi sama sekali. Seabreg tugas dari dosen
adalah kewajiban yang harus diselesaikan tapi bukanlah suatu permasalahan untuk
kemudian menyelesaikan tugas-tugas dalam organisasi.
Banyak hal-hal positif dengan
belajar berorganisasi, baik itu dilingkungan kampus atau organisasi di
masyarakat. Organisasi mengajarkan untuk menjadi pemimpin yang bijak sekaligus
menjadi bawahan yang baik pula. Tidak ada rasa egois dan individualistis,
semuanya berjalan beriringan. Semuanya diselesaikan bersama-sama. Rasa-rasa
sakit hati, dicuekin, sedih, menangis, bahagia, puas, tertawa hanyalah bumbu
penyedap organisasi itu dan semua orang pasti merasakannya. Jangan takut berorganisasi,
karena di sana tersimpan berlian yang akan membuat kita melejit jauh ke depan.
B. Mengapa
organisasi??
Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua manusia
menjalankan fungsi intelektualnya dalam
masyarakat. Antonio Gramsci (1891-1937).
Jangan
sampai kalian mengikuti organisasi hanya untuk eksis (mendapat pengakuan dari
teman-teman lainnya), cari jodoh, nampang, mencari keuntungan materi atau
pelarian dari aktifitas kuliah yang membosankan. Karena apabila diawali oleh
niat yang tidak tulus dan kurang baik, maka biasanya hasilnya pun akan kurang
baik dan tidak optimal. Misalnya seorang aktifis organisasi memiliki IP kurang
dari 3,00 kemudian dia beralasan “Saya adalah seorang aktifis, jadi maklum IP
saya dibawah 3″. Hanya orang-orang yang bermental lemah saja yang mau
mengatakan hal itu demi menghilangkan rasa malu.
Oleh karena itu, pandai-pandailah
mencari teman karena lingkungan adalah tantangan paling utama dalam meraih
prestasi. Tentunya pilihlah organisasi yang baik, organisasi yang bisa
mengantarkan kita menjadi orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional,
intelektual, dan spiritual yang tinggi serta memiliki kecerdasan sholeh secara
personal maupun sholeh secara sosial. Dengan mengikuti organisasi, mahasiswa
akan “terpaksa” belajar mengatur waktunya dengan baik. Karena pembelajaran yang
terjadi di perguruan tinggi adalah belajar orang dewasa (andragodi) dimana tiap
individu bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Mulai dari belajar mengatur
waktu, belajar mandiri dan belajar beradaptasi dengan lingkungan serta sistem
dan metode yang sama sekali baru dibandingkan waktu sekolah dahulu.
Lewat
organisasi kita belajar mengasah kemampuan kita dalam bersosialisasi dan
berkomunikasi dengan orang banyak, sehingga kita akan terbiasa menghadapi
permasalahan dengan banyak karakter orang, terbiasa berpikir kreatif, kritis,
objektif dan aktif mengembangkan diri ke arah yang lebih baik. Dalam organisasi
biasanya akan banyak kerjasama-kerjasama lintas kampus bahkan daerah, salah
satu contohnya adalah studi banding dengan universitas lain. Dengan demikian
akses untuk berhubungan dengan orang lain pun akan bertambah berlipat-lipat.
Seorang
mahasiswa atau mahasiswi yang kuliah saja, tidak bisa dijamin segera bisa
merampungkan studinya. Tidak sedikit mahasiswa yang molor masa studinya hanya
karena malas atau jenuh dan suka keluyuran yang tidak jelas manfaatnya. Begitu
pula sebaliknya, tidak sedikit mahasiswa yang berkecimpung dalam organisasi
malah bisa cepat lulus karena bisa membagi waktu dan tidak membiarkan waktu
yang dilalui terbuang percuma tanpa diisi dengan kegiatan yang berarti. Banyak
pula diantara mereka justru semakin bersemangat dan tekun dalam belajar karena
banyak orang yang mendorong mereka dan memotivasi untuk lebih maju dan
menghargai waktu.
Oleh sebab itu, tanamkanlah dalam
diri kita bahwa organisasi akan membawa kita ke arah perbaikan sikap dan
keterampilan, bukan menjadi salah satu faktor kegagalan studi seseorang. Takut
nilai IP jeblok dan studi terganggu bukanlah alasan untuk tidak berorganisasi.
Karena seyogyanya hidup kita tak dapat terlepas dari organisasi. Secara tak
sadar pun kita telah menjadi sebuah bagian dari organisasi terkecil, yaitu
Keluarga. Jadikan organisasi sebagai sarana kita untuk berkreatif dan
menyumbangkan ide dan pemikiran kita karena ide tidak akan terlaksana jika
tidak ada yang menampung aspirasi dari ide tersebut. Dengan pemikiran tersebut,
bukan hal yang sulit lagi bagi kita, sebagai mahasiswa untuk mengembangkan diri
agar dapat berprestasi baik dalam akademik maupun organisasi. Atau dalam
perenungan yang lebih dalam lagi, “Selama hidup kita di kampus ini, kita akan
menghargai waktu yang diberikan oleh Tuhan tersebut dengan karya apa?” Kita
ingin menjadi mahasiswa yang seperti apa? Dan semuanya kembali pada diri kita
sendiri untuk menjawab itu semua.