Senin, 17 Desember 2012


Menjadi Manusia Berprestasi Dengan Organisasi
A.    Definisi Organisasi Menurut Para Ahli :
Secara sederhana, organisasi bisa diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu yang perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik. Sehingga bisa dimungkinkan terjadinya suatu konflik dalam sebuah organisasi yang dikarenakan oleh adanya ketidakselarasan tujuan, perbedaan interpretasi fakta, ketidaksepahaman yang disebabkan oleh ekspektasi perilaku dan sebagainya. Berikut ini adalah pengertian dan definisi organisasi menurut beberapa ahli:
1.      MATTHIAS AROEF
Suatu organisasi terjadi apabila sekelompok orang bekerja bersama sama untuk mencapai tujuannya.
2.      PFIFFNER dan SHERWOOD
Organisasi sebagai suatu pola dari cara-cara dalam mana sejumlah orang yang saling berhubungan, bertemu muka, secara intim dan terkait dalam suatu tugas yang bersifat kompleks, berhubungan satu dengan yang lainnya secara sadar, menetapkan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan semula secara sistematis.
3.      ALLEN
Organisasi adalah suatu proses identifikasi dan pembentukan serta pengelompokan kerja, mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang maupun tanggung jawab dan menetapkan hubungan - hubungan dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerjasama secara efektif dalam menuju tujuan yang ditetapkan.
Menurut ERNEST DALE, sebuah struktur organisasi harus memuat tentang 5 hal  sebagai berikut:
a.       Daftar pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi;
b.      Membagi jumlah beban kerja dalam tugas-tugas atau biasa disebut pembagian kerja (division of work);
c.       Menggabungkan tugas-tugas dalam keadaan yang logis dan efisien atau departementalisasi (departmentalization);
d.      Menetapkan mekanisme untuk koordinasi; dan
e.       Memonitor efektivitas struktur organisasi dan melakukan penyesuaian apabila diperlukan

            Bagi para mahasiswa baru yang tidak ada background organisasi di SMA seringkali merasa ketakutan untuk masuk ke dalam dunia organisasi kampus. Alasannya memang beragam, tapi banyak yang mengatakan masuk ke suatu organisasi kampus akan membuat nilai-nilainya turun dan akan sangat mengganggu aktivitas perkuliahan. Mereka para pemikir-pemikir hebat yang terlalu mengagungkan akademik dibandingkan keterampilan softskill beralasan masuk organisasi hanyalah membuang-buang waktu belajar.
            Secara umum kita melihat bahwa orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi hanyalah para mahasiswa yang lulusannya selalu telat dengan IPK yang lumayan buruk. Itulah sekelumit pandangan terhadap para organisatoris.
            Masih hangat dalam ingatan saya saat awal masuk di acara masa pengenalan akademik (OSPEK), seorang kakak kelas mengajukan pertanyaan kepada saya dan juga beberapa teman lainnya, “Kalian mau menjadi mahasiswa seperti apa?” ujarnya kala itu. Pertanyaan itu sangat membingungkan bagi saya. Dan saat itu saya sendiri tidak paham apa yang dimaksud oleh kakak kelas tersebut. Karena di benak saya hanya ada keinginan menjadi sebaik-baiknya mahasiswa. Dan sebaik-baik mahasiswa yang saya tahu pada saat itu adalah mahasiswa yang ber-IPK tinggi, lulus dalam jangka waktu cepat, kemudian mendapat pekerjaan yang sesuai bidangnya.
            Namun seiring berjalannya waktu, saat saya sudah menjalani kehidupan kampus dalam keseharian, saya pun mulai mengerti maksud kakak kelas tersebut. Karena saya merasakan sendiri bahwa ada beberapa tipe mahasiswa di kampus tercinta ini (dan mungkin hampir di seluruh universitas di negeri ini). Sedikitnya saya menganalisis ada empat kelompok besar tipikal mahasiswa. Pertama, adalah kelompok mahasiswa yang mementingkan prestasi akademik dan nilai IPK tinggi di atas segalanya. Paradigma mereka sama seperti paradigma awal saya, yaitu menjadi mahasiswa berprestasi dengan IPK tinggi (min. 3,00) sehingga dapat mengambil jatah SKS lebih banyak dan mempercepat waktu kelulusan. Sebutan kerennya adalah mahasiswa KUPER (Kuliah-Perpus-Rumah) dikarenakan memang seputar tiga daerah itu saja mereka berkutat dan aktifitasnya selalu belajar, belajar dan belajar. Motivasi belajar mereka memang sangat bagus dan patut dicontoh. Namun bila dilihat lebih mendalam, efek belajar terus-menerus tanpa ada selingan kegiatan di luar akademik untuk membangun hubungan pertemanan sangatlah tidak baik bagi diri mereka sendiri. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Dan dalam dunia kerja hubungan komunikasi itu akan sangat berpengaruh terutama dalam hal kerja tim.
            Kedua, adalah kelompok mahasiswa yang lebih mementingkan kegiatan di luar akademik. Paradigma mereka adalah membangun jaringan seluas-luasnya (networking) agar lebih berkembang. Mereka lebih dikenal sebagai aktivis. Julukan yang sering terlontar bagi mereka adalah KURA-KURA (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat) atau MANSYUR S.(Manusia Syuro Selalu). Membangun relasi serta interaksi dalam sebuah tim (dalam hal ini organisasi) memang sangat bagus. Hanya saja tipikal mahasiswa ini dominan melalaikan kewajiban utamanya sebagai mahasiswa dikarenakan terlalu larut dan keasyikan dalam aktifitasnya. Sehingga masa kuliah mereka relatif lebih lama dibanding teman-temannya yang lain. Dan itu akan berdampak pada keluarga mereka yang menanti mereka untuk segera mengenakan toga dan mendapat title sarjana di belakang nama mereka.
            Ketiga, adalah tipikal mahasiswa yang kontras dengan kedua tipikal mahasiswa di atas. Yaitu tipikal mahasiswa yang tidak memiliki niat serius dalam meraih prestasi akademik ataupun aktif dalam organisasi. Mereka adalah tipikal mahasiswa yang dikenal dengan istilah KUNANG-KUNANG (Kuliah Nangkring-Kuliah Nangkring). Paradigma yang mereka miliki kebanyakan adalah kuliah hanya sekedar mendapatkan ijazah dan title semata. Aktifitas yang mereka lakukan pun biasanya sesuka hati mereka, yang bersifat hedonis dan senang-senang seperti nonton ke bioskop, jalan-jalan, pacaran, main games dan sebagainya.
            Terakhir, adalah tipikal mahasiswa yang sempurna. Merupakan penggabungan semua unsur kebaikan dari tipikal mahasiswa pertama dan kedua. Mereka adalah manusia-manusia pembelajar, seperti yang dikatakan Andreas Harefa. Karena mereka mampu memanajemen waktu dan memporsikan diri mereka dalam dua dunia, yaitu dunia kuliah dan dunia organisasi. Dan mahasiswa seperti inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat, lingkungan serta negara ini.
            Organisasi membuat kita menjadi lebih kritis dalam menghadapi suatu masalah, menjadi lebih peka dengan lingkungan sekitar, juga belajar berinteraksi untuk menyampaikan suatu gagasan yang seringkali berbeda satu sama lain. Seharusnya para organisatoris mengerti betul tentang manajemen waktu, hal itulah yang menjadi suatu kelebihan dibanding orang yang tidak berorganisasi sama sekali. Seabreg tugas dari dosen adalah kewajiban yang harus diselesaikan tapi bukanlah suatu permasalahan untuk kemudian menyelesaikan tugas-tugas dalam organisasi.
            Banyak hal-hal positif dengan belajar berorganisasi, baik itu dilingkungan kampus atau organisasi di masyarakat. Organisasi mengajarkan untuk menjadi pemimpin yang bijak sekaligus menjadi bawahan yang baik pula. Tidak ada rasa egois dan individualistis, semuanya berjalan beriringan. Semuanya diselesaikan bersama-sama. Rasa-rasa sakit hati, dicuekin, sedih, menangis, bahagia, puas, tertawa hanyalah bumbu penyedap organisasi itu dan semua orang pasti merasakannya. Jangan takut berorganisasi, karena di sana tersimpan berlian yang akan membuat kita melejit jauh ke depan.

B. Mengapa organisasi??
Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua manusia menjalankan fungsi intelektualnya dalam  masyarakat. Antonio Gramsci (1891-1937).
            Jangan sampai kalian mengikuti organisasi hanya untuk eksis (mendapat pengakuan dari teman-teman lainnya), cari jodoh, nampang, mencari keuntungan materi atau pelarian dari aktifitas kuliah yang membosankan. Karena apabila diawali oleh niat yang tidak tulus dan kurang baik, maka biasanya hasilnya pun akan kurang baik dan tidak optimal. Misalnya seorang aktifis organisasi memiliki IP kurang dari 3,00 kemudian dia beralasan “Saya adalah seorang aktifis, jadi maklum IP saya dibawah 3″. Hanya orang-orang yang bermental lemah saja yang mau mengatakan hal itu demi menghilangkan rasa malu.
            Oleh karena itu, pandai-pandailah mencari teman karena lingkungan adalah tantangan paling utama dalam meraih prestasi. Tentunya pilihlah organisasi yang baik, organisasi yang bisa mengantarkan kita menjadi orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual yang tinggi serta memiliki kecerdasan sholeh secara personal maupun sholeh secara sosial. Dengan mengikuti organisasi, mahasiswa akan “terpaksa” belajar mengatur waktunya dengan baik. Karena pembelajaran yang terjadi di perguruan tinggi adalah belajar orang dewasa (andragodi) dimana tiap individu bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Mulai dari belajar mengatur waktu, belajar mandiri dan belajar beradaptasi dengan lingkungan serta sistem dan metode yang sama sekali baru dibandingkan waktu sekolah dahulu.
            Lewat organisasi kita belajar mengasah kemampuan kita dalam bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang banyak, sehingga kita akan terbiasa menghadapi permasalahan dengan banyak karakter orang, terbiasa berpikir kreatif, kritis, objektif dan aktif mengembangkan diri ke arah yang lebih baik. Dalam organisasi biasanya akan banyak kerjasama-kerjasama lintas kampus bahkan daerah, salah satu contohnya adalah studi banding dengan universitas lain. Dengan demikian akses untuk berhubungan dengan orang lain pun akan bertambah berlipat-lipat.
            Seorang mahasiswa atau mahasiswi yang kuliah saja, tidak bisa dijamin segera bisa merampungkan studinya. Tidak sedikit mahasiswa yang molor masa studinya hanya karena malas atau jenuh dan suka keluyuran yang tidak jelas manfaatnya. Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit mahasiswa yang berkecimpung dalam organisasi malah bisa cepat lulus karena bisa membagi waktu dan tidak membiarkan waktu yang dilalui terbuang percuma tanpa diisi dengan kegiatan yang berarti. Banyak pula diantara mereka justru semakin bersemangat dan tekun dalam belajar karena banyak orang yang mendorong mereka dan memotivasi untuk lebih maju dan menghargai waktu.
            Oleh sebab itu, tanamkanlah dalam diri kita bahwa organisasi akan membawa kita ke arah perbaikan sikap dan keterampilan, bukan menjadi salah satu faktor kegagalan studi seseorang. Takut nilai IP jeblok dan studi terganggu bukanlah alasan untuk tidak berorganisasi. Karena seyogyanya hidup kita tak dapat terlepas dari organisasi. Secara tak sadar pun kita telah menjadi sebuah bagian dari organisasi terkecil, yaitu Keluarga. Jadikan organisasi sebagai sarana kita untuk berkreatif dan menyumbangkan ide dan pemikiran kita karena ide tidak akan terlaksana jika tidak ada yang menampung aspirasi dari ide tersebut. Dengan pemikiran tersebut, bukan hal yang sulit lagi bagi kita, sebagai mahasiswa untuk mengembangkan diri agar dapat berprestasi baik dalam akademik maupun organisasi. Atau dalam perenungan yang lebih dalam lagi, “Selama hidup kita di kampus ini, kita akan menghargai waktu yang diberikan oleh Tuhan tersebut dengan karya apa?” Kita ingin menjadi mahasiswa yang seperti apa? Dan semuanya kembali pada diri kita sendiri untuk menjawab itu semua.


Tidak ada komentar: